Sesungguhnya, fenomena lemah iman merupakan sesuatu yang telah merebak dan tersebar luas di kalangan kaum muslimin. Ada sekian banyak orang yang mengadu perihal kekerasan hatinya dengan berbagai ungkapan yang berulang kali mereka ucapkan.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ إِنَّمَا مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِي أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ

“Dinamakan dengan hati lantaran perubahannya. Sesungguhnya, perumpamaan hati itu ialah laksana sehelai bulu yang menempel di pangkal pohon, yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik ”.[1]

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيشَةٍ بِأَرْضٍ فَلَاةٍ تُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ

“Perumpamaan hati itu ialah laksana sehelai bulu di sebuah tanah lapang yang diubah oleh hembusan angin dalam keadaan terbalik.”[2]

Ia begitu cepatnya berubah, sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi saw. dengan sabdanya:

لَقَلْبُ ابْنِ آَدَمَ أَسْرَعُ تَقَلُّباً مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلَيَاناً

“Sungguh, hati keturunan Adam itu lebih cepat berubah daripada (air) sebuah periuk jika memuncak dalam keadaan mendidih.”[3]

 

Lemah iman memiliki sebab-sebab yang begitu banyak. Di antaranya ada yang menyertai gejala-gejala dari lemah iman, seperti terjerumus ke dalam kemaksiatan dan menyibukkan diri dengan urusan dunia. Berikut ini akan disebutkan sebab-sebab lainnya sebagai tambahan dari apa yang telah dikemukakan sebelumnya.

1. Jauh dari iklim-iklim (suasana) keimanan dalam tempo waktu yang lama.

Ini merupakan penyebab lemahnya keimanan di dalam hati. Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa jauhnya seseorang dari suasana keimanan dalam waktu yang lama merupakan penyebab dari lemahnya keimanan di dalam hati. Contohnya, seseorang yang jauh dari saudara-saudaranya yang berada di jalan Allah dalam jangka waktu yang lama dikarenakan melakukan safar, karena adanya tugas dan lain sebagainya. Dengan demikian, ia pun akan kehilangan suasana keimanan. Hal tersebut hanya bisa dinikmati ketika berada dalam naungannya, dan dari situ pulalah ia akan memperoleh kekuatan hatinya.

Keberadaan orang mukmin bersama dirinya sendiri itu lebih sedikit, sedang keberadaannya bersama dengan saudara-saudaranya yang seiman jauh lebih banyak. Al-Hasan Al-Bashri rhm. berkata, “Saudara-saudara kami yang seiman lebih berharga bagi kami daripada keluarga-keluarga kami. Sebab keluarga kami akan mengingatkan kami kepada dunia, sedangkan saudara-saudara kami yang seiman akan mengingatkan kami kepada akhirat.”

Sikap menjauhi iklim ini, jika dilakukan secara terus-menerus, akan meninggalkan sebuah kerisauan, yang lambat laun akan berubah menjadi sikap menghindarkan diri (berlari) dari suasana keimanan tersebut.

Inilah gambaran kelemahan iman yang terjadi pada sebagian orang yang berpergian untuk acara liburan, maupun sesudah kepindahan mereka ke tempat-tempat lain untuk berkerja ataupun study.

2. Menjauhkan diri dari keteladanan yang baik.

            Seseorang yang belajar kepada orang shaleh, maka ia akan bisa memadukan antara ilmu yang bermanfaat, amal yang shaleh dan juga iman yang kuat. Ia akan melihat dan mencontoh ilmu, akhlak dan juga keutamaan-keutamaan yang ada pada diri gurunya. Andaikata ia jauh dari gurunya dalam waktu yang lama, maka sang murid itu pun akan merasakan kekerasan dalam hatinya.

Untuk itulah, tatkala Rasulullah saw. meninggal dan jasadnya telah dikubur, maka para sahabat pun berkata, “Hati kami tidak bisa menerima kenyataan ini.” Mereka dilanda kerisauan, sebab sang murabbi (pendidik), guru dan juga teladan mereka telah meninggal.

Sebagian atsar yang lain juga menggambarkan mengenai keadaan mereka, yakni seperti domba di tengah malam yang dingin. Akan tetapi, Rasulullah saw. telah meninggalkan gunung-gunung bagi orang-orang yang beliau tinggalkan.

Setiap dari mereka layak untuk menjadi pemimpin sehingga sebagian dari mereka bisa menjadi teladan bagi sebagian yang lain. Adapun kenyataan pada hari ini, seorang muslim benar-benar sangat membutuhkan teladan yang dekat dengan dirinya.

3. Menjauhkan diri dari menuntut ilmu syar‘i, dan dari berinteraksi dengan kitab-kitab salaf maupun kitab-kitab keimanan.

Maksudnya, ilmu-ilmu syariat dan kitab-kitab ini yang dapat menghidupkan hati. Ada berbagai macam kitab, di mana sang pembaca dapat membangkitkan keimanan dalam hati, dan menggerakkan pendorong-pendorong keimanan yang tersembunyi dalam dirinya.

Adapun yang paling pokok adalah Kitabullah, kemudian kitab-kitab hadits, kemudian kitab-kitab para ulama yang cakap (ahli) dalam masalah akhlak maupun nasihat. Selain itu juga ulama-ulama yang unggul dalam memaparkan sisi akidah dengan metode yang dapat menghidupkan hati. Seperti kitab-kitabnya Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab maupun ulam-ulama yang lainnya.

Terputusnya seseorang dari kitab-kitab semacam ini, dan bersamaan dengan itu ia justru tenggelam dalam membaca kitab-kitab falsafat, kitab-kitab hukum yang kosong dari dalil-dalil, kitab-kitab bahasa maupun kitab-kitab ushul saja, maka semua ini terkadang dapat menyebabkan kekerasan hati.

Ini bukan berarti celaan terhadap kitab-kitab bahasa, kitab-kitab ushul maupun kitab-kitab sejenisnya. Akan tetapi, ini merupakan peringatan bagi orang-orang yang berpaling dari kitab-kitab tafsir dan juga hadits. Atau bahkan, hampir tidak membacanya sama sekali. Padahal, ia merupakan kitab-kitab yang dapat menghubungkan hati dengan Allah Azza wa Jalla.

Ketika Anda membaca Shahihaini (kitab hadist Bukhari dan Muslim), misalnya, Anda akan merasa seakan-akan hidup dalam suasana masa generasi pertama, yakni bersama dengan Rasulullah dan para sahabat beliau. Anda juga akan menyingkap hembusan-hembusan keimanan dalam biografi mereka, dan kehidupan mereka serta berbagai peristiwa yang terjadi pada masa mereka.

Para penelaah hadits adalah sahabat-sahabat Rasulullah

Meski mereka tidak menyertai beliau, namun nafas kehidupan beliau akan senantiasa menyertai mereka

Dari sebab inilah (yakni menjauhi kitab-kitab keimanan), pengaruhnya tersebut akan begitu tampak nyata pada diri orang-orang yang mempelajari berbagai bidang pelajaran yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam, seperti filsafat, ilmu kejiwaan, sosial dan lain-lainya dari berbagai macam topik yang dirumuskan jauh dari Islam.

Pengaruh tersebut juga begitu nyata terlihat pada diri orang-orang yang suka membaca kisah-kisah fiktif, kisah-kisah percintaan dan asmara, mengikuti berita-berita yang tidak bermanfaat dari berbagai surat kabar, majalah, memoir dan lain sebagainya. Memberikan perhatian terhadapnya dan kontinu dalam mengikuti perkembangannya.

4. Keberadaan seorang muslim ditengah-tengah lingkungan yang dipenuhi dengan berbagai macam kemaksiatan.

Yang pertama merasa bangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya, yang kedua mendendangkan lagu-lagu, yang ketiga mengepulkan asap rokok, yang keempat membentangkan majalah porno. Selanjutnya, yang kelima lisannya selalu mengeluarkan celaan, cacian serta ejekan, dan beginilah seterusnya. Adapun tentang gosip, menggunjing, adu domba maupun berita-berita percekcokan sudah tidak terhitung lagi banyaknya.

Sebagian lingkungan yang lain di dalamnya tidak disebut-sebut, kecuali urusan dunia. Sebagaimana kondisi yang banyak terjadi hari ini dalam berbagai pertemuan maupun kantor-kantor. Pembicaraan tentang bisnis, pekerjaan, harta kekayaan, pengembangan usaha, problem pekerjaan, kenaikan gaji, promosi, jaminan dan lain sebagainya. Hal tersebut menjadi inti perhatian dan pembicaran mayoritas orang.

Adapun lingkungan rumah, maka berkatalah sekehendak Anda. Karena malapetaka, berbagai kemungkaran yang dapat mengerutkan dahi orang muslim dan menjengkelkan hatinya, nyanyian-nyanyian porno, film-film rendahan, ikhtilath (campur-baur) yang diharamkan dan hal-hal selain itu, telah memenuhi rumah-rumah kaum muslimin. Biah-biah semacam inilah yang menyebabkan hati tertimpa penyakit, yang kemudian tidak diragukan lagi akan berubah menjadi keras.

5. Tenggelam dalam kesibukan dunia, sehingga hati berubah menjadi budak dari keduniaan tersebut.

Rasulullah saw. telah bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَعَبْدُ الدَّرْهَمِ

“Celakalah hamba dinar dan hamba dirham.”[4]

Rasulullah saw. juga bersabda:

إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدُكُمْ مَا كَانَ فِي الدُّنْيَا مِثْلَ زَادِ الرَّاكِبِ

“Cukuplah bagi seseorang di antara kalian selagi di dunia, seperti bekal orang yang mengadakan perjalanan.”[5]

Yakni, cukup baginya sesuatu yang sedikit, sekadar yang bisa menghantarkannya pada tujuan yang dimaksudkan.

Fenomena semacam ini begitu tampak jelas pada masa sekarang. Ketamakan materi telah merata, begitu pula dengan kerakusan untuk menambah harta dunia. Manusia pun menjadi berlomba-lomba di belakang perniagaan, industri-industri maupun saham-saham.

Inilah bukti dari apa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ إِنَّا أَنْزَلْنَا الْمَالَ لِإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَلَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِ ثَانٍ وَلَوْ كَانَ لَهُ وَادِيَانِ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِمَا ثَالِثٌ وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya kami menurunkan harta untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Andaikata anak Adam sudah memiliki satu lembah, tentu dia lebih suka untuk ditambah lagi dengan lembah kedua. Andaikata dia sudah memiliki dua lembah, tentu dia lebih suka untuk ditambah lagi dengan lembah ketiga. Tidaklah mulut anak Adam itu dipenuhi, melainkan dengan tanah, dan kemudian Allah memberikan ampunan kepada siapa yang bertaubat.”[6]

6. Menyibukkan diri dengan harta, istri maupun anak-anak

Allah Azza wa Jalla berfirman:

واعلموا أنما أموالكم وأولادكم فتنة

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfâl: 28)

Allah juga berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)

Makna ayat ini adalah bahwa kecintaan terhadap hal-hal ini—khususnya wanita dan anak-anak—jika lebih diprioritaskan daripada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, itu merupakan sesuatu yang buruk dan pelakunya pun tercela.

Adapun jika kecintaan terhadap hal-hal tersebut sesuai dengan tuntunan syariat demi ketaatan kepada Allah, pelakunya adalah orang yang terpuji.

Nabi saw. telah bersabda:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطَّيِّبُ وَجُعِلَ قُرَّةَ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ

“Dijadikan kecintaan kepadaku dari harta dunia, wanita dan wewangian. Dan dijadikan penyenjuk pandanganku di dalam shalat.”[7]

Banyak dari manusia yang ‘mengekor’ di belakang istrinya dalam hal-hal yang diharamkan, dan ‘mengekor’ di belakang anak-anak dalam kelalaian dari ketaatan kepada Allah.

Nabi saw. bersabda :

اَلْوَلَدُ مَحْزَنَةٌ مَجْبَنَةٌ مَجْهَلَةٌ مَبْخَلَةٌ

“Anak itu bisa mendatangkan kedukaan, lemah hati, kebodohan dan kebakhilan.”[8]

            Maksud dari perkataan beliau ‘mendatangkan kebodohan‘, yakni jika seseorang hendak berinfak fi sabilillah, setan akan mengingatkan dirinya kepada anak-anaknya sehingga dia pun berkata, “Anak-anakku lebih berhak atas harta ini. Aku akan meninggalkan harta ini untuk mereka, sebab mereka akan membutuhkannya sepeninggal diriku.” Lalu, dia pun menjadi bakhil untuk berinfak di jalan Allah.

Maksud dari perkataan beliau ‘mendatangkan lemah hati‘, yakni jika seseorang hendak berjihad fi sabilillah, setan akan mendatanginya seraya berkata, “Engkau akan berperang, lalu mati terbunuh sehingga anak-anakmu akan kehilangan dirimu dan menjadi yatim.” Akhirnya, dia pun mengurungkan niatnya untuk keluar berjihad.

Maksud dari perkataan beliau ‘mendatangkan kebodohan‘, yakni orang tua menjadi lalai dari menuntut ilmu, lalai dalam upaya meraih ilmu tersebut, dan menghadiri majelis-majelisnya maupun membaca kitab-kitabnya.

Maksud dari perkataan beliau ‘mendatangkan kedukaan‘, yakni jika sang anak sakit, orangtua akan bersedih. Jika anak meminta sesuatu, sementara orangtua tidak mampu, orang tua pun akan bersedih. Jika anak telah besar, namun kemudian durhaka kepada orangtuanya, itulah kesedihan yang abadi dan kedukaan yang pasti.

Ini bukan berarti seseorang itu tidak boleh menikah, mempunyai keturunan ataupun tidak perlu mendidik anak-anaknya. Akan tetapi, hal tersebut dimaksudkan sebagai peringatan dari menyibukkan diri bersama mereka dengan hal-hal yang dilarang.

Adapun mengenai fitnah harta, maka Rasulullah saw. telah bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat itu memiliki cobaan, dan cobaan umatku adalah harta benda.”[9]

Ambisi terhadap harta itu jauh lebih merusak agama daripada seekor serigala yang menguasai kandang domba. Inilah makna dari sabda Nabi saw.:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala kelaparan yang dilepas untuk memburu seekor domba itu lebih merusak daripada ketamakan seseorang untuk memiliki harta dan kedudukan bagi agamanya.”[10]

Maka dari itu, Nabi saw. menganjurkan untuk mengambil (harta) secukupnya tanpa perlu berlebih-lebihan, yang akhirnya dapat melalaikan seseorang dari berdzikir kepada Allah.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا يَكْفِيكَ مِنْ جَمْعِ الْمَالِ خَادِمٌ وَمَرْكَبٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Cukuplah bagimu untuk mengumpulkan harta sebatas sebagai pelayan (kebutuhan) dan kendaraan di jalan Allah.”[11]

Beliau juga telah memberikan ancaman terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam mengumpulkan harta, kecuali mereka yang mau bersedekah. Beliau saw. bersabda:

وَيْلٌ لِلْمُكْثِرِينَ إِلَّا مَنْ قَالَ بِالْمَالِ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا أَرْبَعٌ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَمِنْ قُدَّامِهِ وَمِنْ وَرَائِهِ

“Kecelakaanlah bagi orang-orang yang memperbanyak harta, kecuali orang yang berkata kepada harta tersebut, ‘Begini, begini, begini dan begini.‘ Empat dari arah kanannya, dari arah kirinya, dari arah depannya dan dari arah belakangnya.” Yakni, mengeluarkannya pada pintu-pintu sedekah dan bentuk-bentuk kebaikan.[12]

7. Panjang angan-angan

Allah SWT berfirman:

يَأْكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلْهِهِمُ الأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang, dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Al-Hijr: 3)

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu akan menghalangi dari kebenaran, sedang panjang angan-angan akan melupakan akhirat.”[13]

Disebutkan pula dalam sebuah atsar, “Empat perkara yang termasuk penderitaan; yakni kebekuan mata, kekerasan hati, panjang angan-angan dan rakus terhadap dunia. Panjang angan-angan akan melahirkan kemalasan, melambatkan diri dari ketaatan, berhasrat terhadap dunia, melupakan akhirat dan mengeraskan hati.”

Sebab kelembutan dan kejernihan hati hanya bisa diperoleh dengan cara mengingat kematian, alam kubur, pahala, siksaan dan kengerian (kedahsyatan) hari kiamat. Sebagaimana firman Allah SWT:

أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُہُمۡ لِذِڪۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡہِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُہُمۡ‌ۖ وَكَثِيرٌ۬ مِّنۡہُمۡ فَـٰسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan pada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadîd: 16)

Dikatakan pula dalam sebuah atsar, “Siapa yang pendek angan-angannya, maka akan sedikit kedukaannya dan bercahaya hatinya. Sebab, jika ia didatangi oleh kematian, ia dalam keadaan bersunguh-sungguh pada ketaatan.”[14]

8. Berlebih-lebihan dalam masalah makan, tidur, begadang, pembicaraan dan juga pergaulan.

Banyak makan akan menumpulkan pikiran dan memberatkan badan dari ketaatan kepada Ar-Rahman. Bahkan, ia merupakan nutrisi bagi pertumbuhan setan dalam diri manusia. Sebagaimana ada yang mengatakan, “Siapa yang banyak makan dan minum, maka ia pun akan banyak tidur sehingga kehilangan pahala yang besar.”

Berlebih-lebihan dalam pembicaraan akan mengeraskan hati. Berlebih-lebihan dalam pergaulan akan membatasi antara manusia dan introspeksi dirinya, menyendiri seraya memerhatikan urusan dirinya. Banyak tertawa akan menghancurkan materi kehidupan yang ada dalam hati sehingga hati itu pun menjadi mati.

Nabi saw. bersabda dalam sebuah hadits shahih:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah kamu sekalian memperbanyak tertawa, sebab banyak tertawa itu bisa mematikan hati.”[15]

Begitu pula, waktu yang tidak diisi dengan ketaatan kepada Allah, akan menyebabkan hati menjadi keras, dan tidak bermanfaat sama sekali akan hardikan-hardikan Al-Qur‘an, tidak pula nasihat-nasihat keimanan.

Demikianlah sebab-sebab lemahnya iman. Namun, sebab-sebab lemah iman itu begitu banyak, sehingga kami tidak bisa untuk membatasinya. Barangkali apa yang telah kami sebutkan bisa menjadi petunjuk atas apa yang belum kami sebutkan.

Orang yang berakal tentu mengetahui sebab-sebab tersebut dari dirinya sendiri. Kita hanya memohon kepada Allah SWT agar Dia senantiasa membersihkan hati kita dan menjaga kita dari kejahatan jiwa-jiwa kita.

 

 


 

[1] HR. Ahmad (IV/408), dan disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (2364)

[2] Dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitâb As-Sunnah (227), dan sanad-sanadnya shahih. Diriwayatkan juga dalam kitab Zhilâlil Jannah Fî Takhrîjis Sunnah oleh Al-Albani (I/102).

[3] Dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitâb As-Sunnah (226) dan sanad-sanadnya shahih. Diriwayatkan juga dalam kitab Zhilâlil Jannah Fî Takhrîjis Sunnah oleh Al-Albani (I/102).

[4] HR. Al-Bukhari, hadits (2730)

[5] HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabîr (IV/78). Disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (2384).

[6] HR. Ahmad, (V/219). Disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (1781).

[7] HR Ahmad, (III/128). Disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (3124)

[8] HR At-Thabrani dalam Al-Kabîr (XXIV/241). Disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (1990)

[9] HR. At-Tirmidzi, hadits (2336). Disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (2148)

[10] HR. At-Tirmidzi, hadits (2376). Disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (5620)

[11] HR. Ahmad, (V/290). Disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (2386)

[12] HR. Ibnu Majah, hadits (4129). Disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (7137)

[13] Fathul Bari, (XI/236).

[14] Fathul Bari, (XI/237).

[15] HR. Ibnu Majah, hadits (4193). Disebutkan pula dalam Shahîhul Jâmi‘, hadits (7435)

http://www.shoutussalam.com/read/in-depth/12412/sebab-lemahnya-iman/


referensi : Fenomena Lemah Iman, Muhammad Shalih al Munajjid

judul asli :

 

 

ظاهرة ضعف الإيمان

 

(last/shoutussalam.com)