Oleh Ibnu Mukhtar
Bumi Alloh, Kamis 5 Sya’ban 1432 H / 7 Juli 2011 M
Segala puji adalah milik Alloh, Robb alam semesta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, yang senantiasa dalam kesibukan mengurus makhluk-Nya tanpa pernah merasa lelah, mengantuk apalagi tertidur.
Ya Alloh sampaikanlah sholawat dan salamku untuk Nabi dan Rosul-Mu Muhammad, ahlul baitnya dan seluruh para sahabatnya.
Aku bersaksi –dari lubuk hati yang paling dalam dan penuh pengharapan akan rahmat dan ampunan Alloh- bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali hanya Alloh  semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan Rosul-Nya yang tidak ada Nabi dan Rosul sesudah beliau –shollallohu ‘alaihi wa sallam-diutus.
Saudaraku, Sya’ban ( شعبان  ) adalah salah satu nama dari bulan Hijriyyah dalam penanggalan Islam. Ia terletak pada urutan ke delapan dari urutan bulan hijriyyah dalam setahun. Posisinya antara bulan Rojab dan Romadhon. Dan ia termasuk bulan mulia yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal sholehnya di bulan tersebut. Sampai-sampai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam saja terlihat banyak melakukan puasa di dalamnya.
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
Dari ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-, ia berkata : “Adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah berpuasa sampai kami mengatakan beliau tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka sampai kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Saya tidak pernah mengetahui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam puasa sebulan
penuh melainkan pada bulan Romadhon, dan saya tidak pernah mengetahui puasa yang lebih banyak beliau lakukan daripada puasa di bulan Sya’ban.” HSR. Al Bukhori no. 1969
Adapun hikmah puasa tersebut dijelaskan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan haditsnya berikut :
عَنْ أُسَامَةَُ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ       مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Dari Usamah bin Zaid –rodhiyallohu ‘anhuma-, ia berkata : “Saya bertanya, ‘Wahai Rosululloh, saya tidak melihatmu berpuasa di bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.’ Beliau bersabda : ‘Itu adalah bulan yang dilalaikan manusia yang terletak antara Rojab dan Romadhon. Dan ia adalah bulan yang amal-amal manusia diangkat ke hadapan Robbul ‘aalamiin. Maka saya ingin jika pada saat amalku diangkat aku dalam kondisi berpuasa.’”  HR. An-Nasaaie dalam sunannya no. 2356 dihasankan Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Shohiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1022.
Saudaraku, hadits yang mulia ini memberikan berbagai faedah dan pelajaran yang  penting bagi kaum muslimin. Di antaranya :
Pertama, penetapan nama Sya’ban, Rojab dan Romadhon sebagai bulan-bulan dalam kalender Islam.
Kedua, menunjukkan letak bulan Sya’ban adalah di antara bulan Rojab dan Romadhon. Adapun secara urut nama bulan Hijriyyah sebagai   berikut : Muharrom, Shofar, Rabi’ul Awwal, Rabi’utsTsaani, Jumadil Awwal, Jumadits Tsaani, Rojab, Sya’ban, Romadhon, Syawal, Dzulqo’dah, dan Dzulhijjah.
Ketiga, menunjukkan bahwa ‘kelalaian’ termasuk sifat kebanyakan manusia kecuali mereka yang dirahmati Alloh Ta’aala.
Alloh Ta’aala mengingatkan dengan firman-Nya yang Mulia : “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.” QS. Al Anbiyaa’ ; 21 : 1
Keempat, menunjukkan bahwa bulan Sya’ban termasuk bulan yang sering disia-siakan banyak manusia. Kebanyakan manusia –kecuali yang dirahmati Alloh- menyibukkan diri di bulan itu dengan amalan-amalan yang tidak bermanfaat. Bahkan di bulan itu banyak pula manusia yang makin gemar bermaksiat atau menyibukkan diri dengan amalan yang disangka sebagai ketaatan dan amal sholeh namun pada hakikatnya amalan tersebut tidak pernah disyari’atkan Alloh dan Rosul-Nya.
Kelima, menunjukkan bahwa amal-amal manusia itu diangkat dan dihadapkan kepada Alloh Robbul ‘aalamiin sesuai dengan kehendak-Nya baik dalam cara maupun waktunya. Dalam hadits yang mulia ini amal-amal manusia diangkat pada bulan Sya’ban. Sedangkan secara mingguan amal-amal manusia itu diangkat pada setiap hari senin dan kamis.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ »
Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Amal-amal itu dilaporkan kepada Alloh pada hari Senin dan Kamis. Maka aku suka saat amalku dilaporkan  aku sedang berpuasa.” HR. Tirmidzi dalam sunannya no. 752 dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Shohiihul Jaami’  no. 2959
Keenam, menunjukkan kedudukan dan keutamaan puasa. Ia adalah salah satu amalan yang paling disukai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu beliau menginginkan saat amal-amal dilaporkan dan dihadapkan kepada Alloh Ta’aala beliau dalam kondisi berpuasa.
Saudaraku itulah di antara keutamaan dan faedah bulan Sya’ban sebagaimana dijelaskan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang mulia tersebut. Selain itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan adanya keutamaan yang lain dari bulan Sya’ban.
وَ عَنْ مُعَاذ بنِ جَبَلٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قال  يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى جَمِيْعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ رواه الطبراني وابن حبان في صحيحه
Dari Mu’adz bin Jabal –rodhiyallohu ‘anhu- dari Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam beliau bersabda : “Alloh melihat seluruh makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban ( malam nishfu sya’ban ) maka Dia mengampuni seluruh hamba-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang memusuhi orang lain. HR. Thobroni dan Ibnu Hibban dalam shohihnya. Syaikh Al Albani menilainya Hasan Shohih dalam Shohiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1026.
Saudaraku, hadits yang mulia ini memberikan kabar gembira berupa ampunan Alloh bagi setiap hamba Alloh yang beriman dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Begitu juga orang-orang mu’min yang tidak memusuhi saudaranya yang mu’min pun mendapatkan kabar gembira yang sama.
Oleh karena itu marilah kita perbaiki kualitas keimanan kita kepada Alloh Ta’aala. Bertaubatlah dari segala perbuatan syirik.  Perbaguslah kualitas keimanan dan takwa kita kepada-Nya. Sibukkanlah diri kita dengan amal-amal sholeh. Perbaiki pula hubungan kita dengan saudara-saudara kita seiman. Sambunglah silaturrahmi. Mintalah kehalalan dari mereka jika kita pernah menodai kehormatannya atau mengambil haknya. Jadilah hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Berdamailah dan jauhi permusuhan dan kedengkian. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Alloh yang mendapatkan ampunan sebagaimana dijanjikan Alloh Ta’aala melalui sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang mulia, aamiin.
Saudaraku, jauhilah pula berbagai amalan yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam seperti sholat nishfu sya’ban, membaca Yasin Fadhilah, kirim-kirim surat al-Fatihah, baca doa khusus malam nishfu sya’ban, dan bid’ah-bid’ah lainnya. Banyaknya orang yang mengamalkan dan menghidupkannya tidaklah menjadi dalil bahwa amalan tersebut disyari’atkan. Ingatlah jika amalan-amalan tersebut memang baik dan mendatangkan pahala niscaya Alloh dan Rosul-Nya akan menjelaskannya kepada kita. Begitu pula generasi sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pasti menjadi generasi pertama yang akan mengamalkannya. Oleh karena itu marilah kita berislam sesuai sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam agar selamat dunia dan akhirat kelak.
Saudaraku, demikian dapat disampaikan. Semoga Alloh Ta’aala menunjuki kita semua kepada ucapan dan amalan yang dicintai dan diridhoi-Nya, aamiin
———————————
Alhamdulillah selesailah sebuah catatan sangat sederhana ini . Aku tulis di di Masjid Al Ishlah saat matahari menuju tempat tenggelamnya untuk bersujud kepada Robb-nya Yang Maha Gagah Perkasa..Semoga ia termasuk amalan penulis yang ikhlas dalam pandangan Alloh dan bermanfaat bagi kaum muslimin..aamiin.
Berkata Ibnu Mukhtar-seorang hamba yang sangat mengharapkan rahmat dan ampunan Robbnya- mengakhiri catatannya :
“Ya Alloh..sungguh aku adalah hamba-Mu yang banyak berlumur dosa dan kesalahan lagi sangat sedikit sekali kebaikannya..sungguh rahmat dan ampunan-Mu sangat hamba harapkan..Ampunilah hamba-Mu ini ya Alloh..Jangan Engkau tinggalkan hamba -walau sekejap matapun jua- tanpa mendapatkan ampunan dan pertolongan-Mu..perbaikilah seluruh urusan hamba..perbaguslah agama dan akhlak hamba..jadikan sisa umur hamba-Mu ini penuh kebaikan, ampunan dan keberkahan..jika Engkau wafatkan hamba, wafatkanlah hamba di saat beramal dengan amalan terbaik dalam pandangan-Mu dan dalam ampunan dan penjagaan-Mu..Ya Alloh selamatkanlah aku di akhir umurku..di alam kuburku dan di saat aku berdiri di hadapan-Mu..Ya Alloh aku memohon Surga Firdaus dan amalan yang menyebabkan diriku memasukinya..dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka dan amalan yang menyebabkan aku memasukinya walau hanya sesaat..Ya Alloh kabulkanlah doaku..aamiin..aamiin..aamiin