Oleh Yulia Safitri

Negara metropolis dengan empati yang tinggi, itulah yang saya nilai dari Hong Kong. Salah satu buktinya adalah Flag Day. Yakni sebuah penggalangan dana untuk lembaga atau instansi tertentu guna mengisi kas. Namun jangan salah duga, para sukarelawannya terkadang bukan dari lembaga yang bersangkutan. Mereka akan berdiri di titik-titik keramaian yang sering dilintasi pengguna jalan. Bahkan, tak jarang anak- anak dilibatkan dalam kegiatan ini. Selain melatih rasa percaya diri , menajamkan empati dan mengajarkan kebajikan, mengisi waktu luang dengan kegiatan positif tentu akan menjadi pembelajaran tersendiri untuk mereka, karena Flag Day ini biasanya berlangsung pada hari minggu atau hari libur nasional.

Minggu pagi itu, di awal musim dingin. Sebuah pemandangan indah menyapa saya disinari mentari yang ramah. Seorang anak kecil lelaki berusia 4- 5 tahun mengenakan jaket musim dinginnya berwarna kuning, tersenyum riang di pinggir jalan. Wajah lugunya yang menggemaskan kian bercahaya setiap ada orang mendekat melintasi jalan di dekatnya. Tas donasi yang di tersampir di bahunya terlihat agak kebesaran untuk ukuran tubuhnya yang mungil, dan lembaran sticker dipegang dengan sangat erat, seolah itu adalah benda yang sangat berharga yang di amanahkan kepadanya. Sang ayah menunggui agak jauh dari tempatnya berdiri.

Jalan lurus yang melintang diantara kami, membuat saya leluasa memandanginya meski masih berjarak puluhan meter. Entah dari pukul berapa dia berdiri disitu. Ketika tak ada orang yang melintas dengan jeda waktu yang cukup lama, dia akan jongkok, mungkin karena kelelahan atau merasa bosan. Hehe…he’s just a kid, hari libur adalah sangat tepat buatnya untuk bangun siang dan memperpanjang waktu rehat. Namun dia memilih berdiri disitu, diterpa angin musim dingin yang kadang garang.

Ketika jarak kami semakin dekat, saya dengar suaranya yang menggemaskan, ramah dan sarat ketulusan.

“Selamat pagi, maukah anda berbuat kebaikan?“ Senyum bocahnya tetap melekat, dengan membungkukkan sedikit badan, dan Ya Allah dia memang sangat belia.

Para pelintas jalan dengan segera memasukkan koin (uang receh) ke tas donasi yang disodorkannya. Lalu dengan gerakan yang tidak terlatih dia melepas salah satu lembaran sticker berlambang lembaga yang sedang dibantunya untuk mencari dana kemudian menyematkannya di bahu pemberi donasi sambil berkata.

“Terimakasih telah berbuat baik, ini adalah tanda kebaikanmu”. Dan senyumnya itu..Subhanallah..

Ketika saya melintas, dia mengucapkan hal yang sama. Setelah transaksi yang semoga di catat sebagai kebaikan dan diridhoi Allah ini usai, saya tambahkan elusan di kepala dan bahunya.

Lei can hai, ho kwai sailo (Kamu sungguh baik adik kecil)”. Dia membalas dengan senyum termanisnya, hehehe menurut saya.

Saya berlalu dari tempat itu dengan sebuah ‘tanda kebaikan’ di kerudung pada bagian bahu. Biasanya saya akan melepasnya lalu memindahkan di sampul buku ‘gado-gado’ sebagai koleksi.

Segera imajinasi ini memulai penjelajahan. Bila kebaikan di beri sebuah tanda, bagaimana dengan keburukan? Dalam setiap detik perjalanan waktu dalam kehidupan dengan buku catatan dari malaikat Rokib dan Atid. Siapakah yang lebih sering mencatat amalan saya?

Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir [QS. Qaf :18]

Kembali berandai-andai, bila kebaikan diberi tanda dengan sebuah sticker dan berbau kesturi di sebelah kanan, lalu keburukan dengan sticker dan aroma tak sedap di sebelah kiri, tentunya orang akan berlomba-lomba menghindari amalan yang di larang oleh-Nya. Karena sesuatu yang kasat mata seolah memiliki pengaruh yang lebih besar. Dan adalah Allah Maha Segala Kuasa, telah menjanjikan balasan berlipat untuk kedua amalan tersebut. Firman-firman-Nya yang selalu menyeru kepada kebaikan, dan menjauhi keburukan. Tanda-tanda itupun begitu nyata kita jumpai kini, masihkah ragu?

Kembali ke tanda kebaikan, hati ini menjadi malu, teringat keburukan-keburukan yang sengaja atau tidak, saya sembunyikan. Tidak mengakui bahkan segera bertaubat meski Allah Maha Mengetahuinya. Bila semua tanda itu kasat mata, berapa banyak sticker yang tersemat di sebelah kiri bahu saya? Astaghfirullahal’adzim.. Dan Allah menutupi keburukan itu dengan tidak menampakkan secara lahir, memberi kesempatan kepada saya untuk tidak mengulanginya lagi dan memperbanyak amal kebajikan.

Sebagai penyemangat diri, perlu juga mengkalkulasi, siapa ya yang lebih banyak mencatat amalan saya hari ini? Lebih banyak di bahu sebelah mana sticker yang tersemat? Meski tanda itu dhahir. Dan dalam setiap amal kebaikan yang saya perbuat, seolah mendengar ucapan “Terimakasih telah berbuat baik, inilah tanda kebaikanmu“. Dengan sticker yang berbau kesturi melekat di bahu kanan. Amin.

Wallahu’alam Bishawab

diajengyusaku@yahoo.com

www.noormuslima.org