Oleh Ashif Aminulloh Fathnan

Kawan, adalah dua kata yang membuat mimpi-mimpi bekerja: percaya dan perbuatan. Mimpi tanpa kedua ini adalah hanya mimpi -sensasi dalam kepala seseorang setelah adanya sambungan neuron dan aliran hormon ke pembuluh darah.

Mimpi sekecil itu! Seprimitif itu! (dan tanyalah sarjana psikologi atau neurologi tentang ini). Namun mimpi dengan kepercayaan, dan ditambah perbuatan untuk mewujudkannya, adalah mimpi yang merubah dunia, mimpi yang membuat wajah peradaban kita seperti saat ini, atau setidaknya, mimpi yang membuat keberadaan kita menjadi seperti sekarang.

Mimpi yang membuat ayah kita menikahi ibu kita, mimpi yang membuat tukang sapu mengeruk sampah di depan rumah kita tiap pagi, mimpi yang membuat para penemu membikin telepon dan teve, mimpi yang membuat pengusaha menjadi kaya, mimpi yang memaksa anak yatim mengemis di jalanan, mimpi yang membujuk Mbak Inem pergi ke Malaysia, mimpi yang membuat presiden resah di depan wartawan. Banyak sekali mimpi itu. Berjejalan di sekitar kita.

Lalu mimpi apa yang membuatmu bangun tiap hari? Yang membuatmu bergegas turun dari ranjang dan menyiram air dingin ke wajah. mimpi yang membuatmu mengencangkan tali sepatu dan berlari ke kampus, mimpi yang membuat tubuhmu lengket di terik siang jalanan, mimpi yang membuat langkahmu gontai di depan laboratorium, mimpi yang membuatmu menyesap kopi dan memaksa mata terbuka hingga dini hari. Mimpi apa itu? Katakanlah kawan…

Ah, atau mungkin, kau tidak bermimpi. Kau tidak menyimpan sesuatu di kepala itu. Tidak ada elektron di neuron yang bereaksi, tak ada hormon yang mengalir ke pembuluh darah. Tak ada sesuatu disana. Kau hanya percaya pada ‘sesuatu’ dan lalu berbuat. Padahal, ah, apakah kau benar-benar mengetahui apakah ‘sesuatu’ itu? Apakah kau sudah memeriksa keberadaannya? Ataukah kau hanya berbuat, terdesak, dan –seperti makhluk primitif lain, bertindak tanpa pikir. Ah. Apakah kau tak bermimpi?

Dan lebih baik kita menanyai diri kita masing-masing. Masih adakah mimpi itu? Masih berarti-kah keberadaannya? Lalu, mengapa tidak kita percaya, dan berbuat!

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (Yusuf:4)

 

http://www.eramuslim.com/oase-iman/ashif-aminulloh-fathnan-masih-adakah-mimpi-itu.htm