Sebagaimana kita sering mendengar dari kisah-kisah assalaf asshalih, para pemuda yang masih dalam usia belia, di pagi hari mereka menjadi pasukan yang gagah berani memerangi orang-orang kafir. Sekarang, marilah kita lihat mereka sebagai ahli ibadah di malam hari yang senantiasa memohon ampunan untuk keesokan harinya.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu malam aku pernah bermalam di tempat bibiku Maimunah. Nabi bangun di tengah malam, dan setelah sebagian malam berlalu, beliau berwudhu dengan air yang ada dalam geribah dengan wudhu yang ringan kemudian mengerjakan shalat, dan akupun berwudhu seperti wudhu yang beliau lakukan kemudian aku mendatangi beliau dan berdiri disisi kiri beliau, lelu beliau memindahkaknku disisi kanannya, kemudian belliau shalat sesuai kehendaknya, kemudian beliau berbaring lalu tidur hingga terdengar suara hembusan nafasnya. Kemudian datang kepada beliau seorang muadzin, lalu beliau menyuruhnya untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda datangnya waktu shalat bersamanya tanpa berwudhu lagi. Kami katakan kepada Amr, “Sesungguhnya mata Rasulullah tidur, namun hati beliau tidaklah tidur.” [1]

Subhanallah! Ibnu Abbas berjaga dimalam hari mengikuti Rasulullah yang bangun di malam hari lalu ia bangun bersamanya. Tidak hanya itu, tetapi ia ingin mengamati wudhu Rasulullah, tata cara wudhu, waktu tidur, waktu bangun, serta waktu bangun beliau untuk melakukan shalat fajar. Sungguh menakjubkan antusiasme para sahabat untuk melakukan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika pada zaman kita sekarang ini para pemuda begadang semalaman, apa yang mereka lakukan? Lalu seberapa tinggikah semangat mereka untuk mengagungkan syiar-syiar sunnah?

Dimanakah Ibnu Abbas bermalam? Dia bermalam dirumah bibinya, Maimunah. Hal ini menunjukkan bahwa ia telah menyambung tali silaturrahim (kekerabatan). Semoga Alloh meridhoi mereka semua.

Dan berikut ini adalah kisah lain yang menakjubkan tentang salah seorang anak generasi salaf dan bagaimana upaya mereka di dalam memotivasi orangtuanya agar melakukan sholat malam.

Syaikh Ibnu Dzhafar Al-Maki didalam kitabnya Anba’ Al-Abnahalaman 150 beliau berkata, “Ketika salah seorang anak menghafal firman Allah ta’ala, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)” (Q.S. Muzammil: 1-2)

Ia berkata kepada bapaknya, “Wahai ayahku, siapakah yang disuruh Allah –untuk melakukan shalat malam- dalam ayat ini?” Sang bapak menjawab, “Wahai anakku, dia adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Anak itu berkata, “Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melakukan apa yang beliau kerjakan?” Sang bapak menjawab, ”Wahai anakku, sesungguhnya shalat malam itu dikhususkan untuk beliau dan ditetapkan baginya bukan untuk umatnya.”

Maka terdiamlah anak itu. Dan ketika ia menghafal firman Alah ta’ala,“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu” (Q.S. Muzammil: 20)

Ia berkata kepada bapaknya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah mendengar adanya segolongan orang yang mengerjakan shalat malam, maka siapakah segolongan orang tersebut?” Bapaknya menjawab, “Wahai anakku, mereka adalah para sahabat –ridhwanullah ‘alaihim-.” Anak itu berkata lagi, “Wahai ayahku, adakah kebaikan yang dapat diraih dengan meninggalkan apa yang diamalkan oleh Nabi dan para sahabatnya?” Sang bapak berkata, “Engkau benar wahai anakku.”

Maka, setelah itu sang bapak bangun di malam hari untuk mengerjakan shalat. Dan pada suatu malam anak itu terbangun dan menyaksikan ternyata ayahnya sedang shalat, lalu berkatalah ia kepada bapaknya, “Wahai ayahku, ajarkan aku bagaimana cara bersuci dan sholat bersamamu.” Bapaknya berkata, “Wahai anakku, tidurlah kembali, karena engkau masih kecil.” Maka anak itu berkata, “Wahai ayahku, pada hari nanti ketika manusia dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan dari pekerjaan mereka [2], maka aku katakan kepada Rabbku, “Sesungguhnya aku telah bertanya kepada Bapakku bagaimana cara bersuci agar aku bisa shalat bersamanya, akan tetapi ia enggan dan berkata padaku, “Tidurlah kembali karena engkau masih kecil, Apakah ayah ingin seperti itu?” maka Bapaknya pun menjawab, “Tidak, Demi Allah wahai anakku, ayah tidak ingin seperti itu.” Kemudian ia mengajarinya lalu shalat bersamanya.

Subhanallah! Semoga Allah tabaroka wa ta’ala memperbanyak anak-anak kaum muslimin seperti mereka. Allohumma amin.

Catatan Kaki:
[1] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1/138) dan oleh Muslim dan yang lainnya

[2] Anak ini mengisyaratkan dan mengingatkan kepada Bapaknya firman Allah Ta’ala, “Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. (Q.S. Al-Zalzalah: 6)

Diambil dari buku “Keagungan Generasi Salaf disertai kisah-kisahnya” oleh Jamal Abdurrahman. Penerbit Darussunnah, Jakarta