Tag

, , ,

Oleh M .jono AG

Aku selalu merindukanmu, walaupun aku tidak tahu siapa dirimu…
Pada saat mereka menumpahkan kekesalan mereka dihadapan hukum warisan penjajah Belanda yang tidak lagi aku mengerti arahnya. Hukumnya memang aneh, para punggawanyapun lebih aneh. Banyak yang bilang hukum hanya tajam kebawah, tapi tumpul ke atas. Bahkan aku sempat berfikir, hukum disini seperti gigi mobil, akan banyak pilihan ketika maju dan berhadapan dengan penguasa dan yang bergelimang harta, tetapi hanya satu pilihan ketika harus melakukan gerakan mundur. Hanya satu pilihan…, tetapi itulah kenyataannya ketika berhadapan dengan kaum dhuafa.

Aneh memang, ketika mereka yang hanya mengambil sandal jepit yang memang selalu dikonotasikan bagi mereka yang terjepit harus berhadapan dengan tuntutan hukum dengan proses yang sangat cepat dengan nilai hukuman yang sangat mengerikan bagi seorang anak seperti mereka. Padahal belum hilang dari ingatan kita tentang seorang pegawai bank yang korupsi, ketika ditahanan harus dikeluarkan biaya yang tidak sedikit ketika usahanya selama ini untuk merubah ciptaan Allah pada dirinya ternyata bermasalah. Proses hukumnyapun sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai. Padahal mungkin hasil korupsinya cukup untuk membeli pabrik sandal jepit, beberapa lokasi malah.

Sangat berbeda jauh dengan dengan ketika Sahabat Ali RA dikalahkan oleh seorang Yahudi dihadapan hakim dalam perkara baju besi ketika bukti-bukti yang diajukan beliau kurang. Padahal siapa yang tidak kenal Ali, seorang yang cerdas, jujur dan khalifah pula. Tidak ada ketakutan sedikitpun bagi si hakim untuk menentukan pihak yang benar dengan fakta-fakta yang ada. Bagitupun Sayidina Ali, tidak merasa terkalahkan maupun terhina karena hal tersebut. Justru karena keagungan beliau itulah si Yahudi akhirnya masuk Islam. Adakah itu anda ….?

Aku selalu merindukanmu, walaupun aku tidak tahu siapa dirimu…
Ketika tempat dudukmu tidak lagi terjangkau oleh akal rakyatmu yang pendek ini. Bahkan uang yang jumlahnya milyaran itupun nggak akan terbayang olehku dan pada umumnya orang-orang yang engkau wakili. Jangankah jumlahnya, berapa luas ruangan yang diperlukan untuk menyimpan uang sebesar itupun bagiku belum terbayang. Aku juga belum menemukan korelasi antara tempat duduk yang nyaman dan mahal dengan ide-ide yang brilian yang akan dihasilkan. Ataukah justru akan terjadi hal yang sebaliknya? Karena terlalu nyaman akan membuat jumlah kalian yang dibuai mimpi semakin banyak ? Ataukah cukup hanya dengan bermimpi untuk membenahi negara yang sudah carut-marut ini ?

Adakah kita lupa bahwa kejayaan Khulafaur Rasyidin memimpin dan memajukan Islam setelah Rasulullah wafat justru dikendalikan dari rumah yang sering tidak ada makan pagi didalamnya. Tidak perlu gedung yang megah dengan fasilitas yang mewah, tapi justru dengan pola kehidupan yang bersahaja? Ide-ide cemerlangpun muncul dari sana untuk memajukan dan membuat Islam jaya. Adakah itu anda…?

Aku selalu merindukanmu, walaupun aku tidak tahu siapa dirimu…
Ketika semua sekolah berlomba-lomba untuk mencapai standar Internasional dengan pola pemikiran barat yang sangat diagung-agungkan. Dengan biaya yang semakin melambung dan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang beruntung. Anak-anak kita tiap hari dijejali dengan ilmu eksak sementara ruhaninya jarang disentuh. Apalagi rasa seninya. Sehingga tidak perlu heran ketika pulang sekolah yang sering kita lihat adalah mereka adu otot dan terlibat tawuran massal. Etika pun sudah sebatas slogan yang harus diucapkan setiap pagi.

Saking gemparnya promosi hal-hal tersebut membuat kita ketakutan menjadikan pesantren sebagai sekolah unggulan dengan paduan antara ilmu agama dan ilmu duniawi. Apalagi ditambah dengan stigma yang mereka kalungkan kepada lulusan pesantren sebagai calon teroris. Masya Allah. Bahkan banyak orang yang selalu menasehati anaknya ketika tidak bisa diatur: ‘’ Ntar kamu saya masukkin ke pesantren kalau nggak bisa diatur!’’ Sehingga kesan pesantren semakin angker dimata anak-anak kita. Nggak usah jauh-jauh mengambil dalil untuk masalah ini. Dalam lagu Indonesia Raya-pun dikatakan yang pertama dibangun adalah jiwanya, baru badannya. Percuma badan sehat kalau jiwanya sakit. Mari kita tengok dengan hati yang jujur, mari telanjangi diri kita. Betapa semakin tahun ke tahun masyarakat kita semakin berada dalam kondisi sehat jasmaninya, tetapi disisi lain semakin banyak yang kondisi jiwanya sakit parah. Adakah anda yang akan merubahnya …?

Aku selalu merindukanmu, walaupun aku tidak tahu siapa dirimu…
Ketika tempat buang hajatmu harus bernilai milyaran rupiah dengan alasan sudah sekian tahun tidak pernah direnovasi, sementara diluar orang-orang yang engkau wakili cukup membuang hajat di sungai yang tidak memerlukan biaya renovasi. Jangankan renovasi, untuk beli awalnya saja mereka tidak mampu. Mereka tidak pernah mengeluh atau mungkin bosan mengeluh. Mereka sangat akrab dengan kata QONA’AH sebagai pembesar hati mereka ketika kesusahan dalam kehidupan sehari-harinya. Engkau sering melupakan mereka, padahal merekalah yang engkau wakili. Tidak takutkah engkau kelak diminta pertanggung-jawaban dihadapan yang Maha Adil kelak, dimana sedikitpun engkau tidak dapat mengelak dari semua tanggung jawab?

Masih belum jelaskah hadist dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: bila berbicara, ia berdusta; bila berjanji, ia mengingkari; dan bila diberi kepercayaan (amanah), ia berkhianat?” Muttafaqun ‘alaih. Padahal tidak sedikit janji yang engkau ucapkan di depan mereka. Tidak ringan juga amanah yang dulu engkau minta. Bahkan dengan nalar dan daya pikir mereka yang sederhanapun sudah cukup tahu bahwa kebohongan sering engaku tampakkan. Andakah yang bersedia merubahnya…?

Aku selalu merindukanmu, walaupun aku tidak tahu siapa dirimu…
Saat ini sedang trend permainan yang melatih keberanian dan konsentrasi dengan cara outbound. Dari berbagai macam mainan yang ada, hight rope adalah permainan yang cukup menantang. Permainan dengan tali pada ketinggian tertentu memang ruhnya permainan alam bebas. Minimal permainan yang selalu kita jadikan menu wajib bagi anak-anak kita adalah flying fox dan meniti jembatan yang terbuat dari tali baik TWO LINE BRIGDE ( jembatan dua tali ) maupun BURMA BRIDGE ( jembatan dari anyaman/tiga tali ).

Permainan ini cukup mahal karena memang alat-alatnya juga cukup mahal dan harus memenuhi standart safety tertentu. Sang instrukturpun dituntut memiliki skill dan safety yang tinggi sebelum mempersilahkan anak-anak kita melaluinya. Dan andapun tidak perlu cemas karena disamping peralatan yang safety masih dibantu dengan Belay untuk pengaman apabila terjadi anak kita lepas control sehingga jatuh dari ketinggian. Dan dengan Belayer yang berpengalaman maka resiko jatuh dengan terjun bebas bisa dicegah.

Padahal masih belum kering ingatan kita ketika serombongan anak-anak SD di sebuah kabupaten di Jawa Barat setiap harinya harus melalui jembatan dua tali tanpa pengaman sedikitpun. Dengan telanjang kaki mereka harus menapakkan kaki mungilnya di Sling ( kawat baja) yang memang bukan didesain untuk jembatan. Dibawahnya sungai dengan arus yang cukup deras menanti tubuh-tubuh mungil itu dan siap menggulung mereka apabila terjatuh. Miris melihatnya…

Ditubuh mereka tidak sedikitpun terpasang Body Harness dan tali sebagai pengaman. Mereka tidak sedikitpun tahu standar keselamatan apabila harus melalui jembatan seperti itu karena memang tidak ada yang ngasih tahu. Yang ada di otak mereka adalah bagaimana bisa cepat sampai ke sekolah dengan tidak terlambat dan tidak berputar berkilo-kilo meter apabila melalui jalur lain yang lebih aman. Mereka menggadaikan keselamatan dirinya untuk tujuan yang sangat mulia yakni Tolabul Ilmi. Itupun belum selesai. Karena didalam kelas jiwa mereka masih terancam dengan ambruknya bangunan yang memang sejak dibangun belum pernah direnovasi. Masihkah kalian bisa nyenyak tidur menyaksikan perjuangan mereka? Sesungguhnya aku sangat merindukanmu yang bersedia digarda paling depan untuk membenahi semua ini. Adakah itu anda…? Wallahu a’lam
masjono@telkom.co.id

Sumber :

http://www.eramuslim.com/oase-iman/m-jono-ag-aku-yang-selalu-merindukanmu.htm