Shoutussalam.com Telah ditemukan satu penemuan baru di bidang teknologi, Baterai Gula. Jangan heran kalau di masa depan (mungkin tidak lama lagi), orang melakukan charge baterai ponsel tidak cari colokan listrik lagi, tapi cari sisa air sirup atau minuman ringan.

Beberapa waktu kedepan , hal ini dimungkinkan terjadi … Selain itu beberapa perusahaan baterai dan elektronikpun sedang mencoba menerapkan hal ini … Dan nantinya jika alat ini berhasil diterapkan maka untuk menciptakan arus listrik kita hanya perlu mengisi dengan sisa air gula ataupun air sirup

Gula juga merupakan sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan sebagai energi … Gula juga merupakan energi yang alami yang langsung dihasilkan oleh alam , yaitu melalui makhluk hidup tumbuhan dalam proses fotosintesis … Jadi baterai gula merupakan sel bahan bakar yang ditenagai oleh gula .Mungkin banyak yang nggak percaya dan bertanya “kok bisa gula jadi baterai” ???

Baterai gula ini memerlukan enzim pencerna gula dan mediator pada anoda dan katoda yang nantinya akan menghasilkan elektron …

Jadi begini, sebenarnya baterai gula ini ialah sel bahan bakar (fuel cell) yang ditenagai dengan gula. Baterai gula ini memerlukan enzim pencerna gula dan mediator, yang salah satunya berupa vitamin K3 atau disebut juga menadione, pada anoda dan katoda. Hasil dari reaksi kimia di anoda berupa ion hidrogen dan elektron akan mengalir ke katoda. Aliran elektron inilah yang menghasilkan listrik. Hebat kan ??? ^_^
secara ringkasnya berikut ini penjelasannya:

Pertama : Agar penggunaan efektif glukosa terjadi, anoda yg ada harus memiliki mediator dan enzim konsentrasi tinggi dengan aktivitas yang tetap. Teknologi ini memakai dua polimer untuk merangkai komponen ke anoda. Tiap polimer bermuatan dan berlawanan sehingga interaksi elektrostatis antar dua polimer mengamankan enzim dan mediator. Kesetimbangan ionic dan dan imobilisasi telah dioptimalkan untuk pengekstrakan elektron dari glukosa secara efisien.

Kedua :  Struktur katoda untuk penyerapan oksigen yang efisien.

Air dalam katoda penting untuk menjamin kondisi optimal untuk reduksi oksigen secara efisien. ‘Bio battery’ memakai elektroda karbon berporos yang memuat enzim terimobilisasi dan mediator yang dipartisi

menggunakan pemisah selofan. Optimisasi struktur elektroda dan proses pemeliharaan tingkat air yang sesuai dapat

meningkatkan reaktivitas katoda.

Ketiga : Optimisasi elektrolit untuk memenuhi struktur sel

Penyangga fosfat 0.1 M biasanya dipakai pada penelitian enzim, tapi penyangga dengan konsentrasi tinggi 1.0 M

digunakan pada ‘bio battery’. Ini berdasarkan penelitian bahwa tingkat konsentrasi tinggi sangat efektif

untuk menjaga aktivitas enzim dalam elektroda.

Keempat : Sel uji dengan daya output tinggi dan ukuran yangdiinginkan.

Sel uji dengan daya tinggi dan ukuran ‘bio baterry’ yang sesuai telah diproduksi dengan pemanfaatan teknologi ini. ‘Bio battery’ ini tidak memerlukan penyampuran, atau konveksi larutan glukosa atau udara;

sebagai baterai pasif, cara kerjanya hanya menyuplai larutan gula ke unit baterai. Sel kubik menghasilkan 50 mW yang merupakan daya output terbesar diantara baterai tipe pasif dengan ukuran sekitar 39 mm setiap rusuknya. Dengan merangkai 4 sel kubik mampu untuk menyalakan walkman dan sepasang speaker. Tempat ‘bio battery’ gula ini terbuat dari plastik berbahan tumbuhan dan didesain dengan citra sel biologi.

Dengan ditemukannya baterai gula ini, di masa depan orang tidak perlu mencari colokan listrik lagi ketika ingin mengisi baterai Handphone, tapi cukup diisi dengan sisa air sirup atau minuman ringan yang manis.

Wihiiiiii keren, patut untuk dicoba !!!

(bems/Fisikaasyik.com)

Sumber :

http://www.shoutussalam.com/read/techno/12445/ada-gula-listrik/