Oleh Septiani DW

“Aku kecewa” ujarnya.
Kulihat tatap matanya, ada bersit luka disana. Aku diam.

“selama ini aku jatuh bangun, jatuh lagi lalu bangkit untuk bangun, terseok-seok berjalan kepayahan dalam masalah demi masalah yang menghimpitku.. tak ada yang mau peduli!”

Aku masih diam. Aku mulai mencium aroma amarah dan kekecewaan yang sangat dalam tuturnya. Kubiarkan ia mengalirkan apa yang membuncah dalam dadanya tanpa bermaksud menyela.

Hening…

Aku menanti kalimat selanjutnya yang keluar dari bibirnya.

Semua yang mengaku saudara, semua yang mengatas namakan “ukhuwah”! gak ada yang mau peduli bahkan sudi menolehpun tidak disaat aku jatuh!”

Deg! Aku tercekat. Kalimatnya kali ini seakan menampar hati ini. “termasuk juga aku kah yang kau maksud ukhti?” Tanya batinku sedih. Kutatap mata akhwat dihadapanku itu lebih dalam, mencoba menyelusuri baris emosi dan perasaannya, juga makna kalimatnya. Ah, terlalu sulit! Terlalu banyak hal yang kubaca dari tatapan bening matanya.

Dia akhwat yang dulu sempat kukagumi dan kuteladani kehanifannya, dia yang mengajarkanku banyak hal tentang bagaimana menjadi akhwat yang hanif, dia pembimbing dimasa-masa awal aku mengenal dan mengenakan jilbab syar’i.

Dia yang kini tengah kecewa dengan “ukhuwah”.

“sabar ukh, mungkin ketika itu saudara yang lain belum tau kalau ukhti punya masalah dan butuh bantuan…” Dengan sangat hati-hati aku berkata.

Dia menggeleng, “mereka tau, tapi urusan pribadi jauh lebih penting daripada peduli dengan urusan orang lain! Itu yang aku tangkap saat aku mencoba curhat dengan seorang teman!”

Aku memilih diam dan menunggu ia melanjutkan kata-katanya, karena aku tak tau apa yang harus aku katakan, aku tau dia lebih paham banyak hal daripada aku.

Hening. kami sibuk dengan perasaan dan pikiran masing-masing.

“sekarang, aku memilih untuk sendiri. Gak perlu mengandalkan ukhuwah! Toh, pada kenyataannya kita harus jatuh bangun seorang diri!

Untuk saat ini, aku sedang gak ingin mencampuri urusan orang lain, sebagaimana orang lain tak pernah peduli padaku”tegasnya.

“tapi ukh, bukankah dalam berdakwah itu kita mencampuri orang lain, ehm.. maksudku, kita peduli dengan apa yang orang lakukan dan meluruskannya, bukankah dakwah seperti itu?

Aku menyela hati-hati, aku hanya takut jika dia mengambil keputusan untuk keluar dari jalan dakwah.

“beda! Beda antara kita yang datang dan mencampuri dengan mereka yang datang dan minta dicampuri! Saya hanya tidak ingin datang dan mencampuri. Sedangkan jika mereka yang datang, minta saran, pendapat, atau sekedar minta didengarkan, yaa saya tetap akan menerima dengan tangan terbuka”.

Aku sedikit lega, mungkin untuk saat ini dia memang sedang butuh waktu untuk sendiri dan mengobati kekecewaannya. Aku hanya berharap, bahwa diantara orang yang mengecawakannya, semoga tak ada aku disana.

Ahh ukhti, ukhuwah memang tak selalunya indah. Bagiku, ukhuwah itu tak terdefinisikan. Boleh saja saat ini kita menggebu-gebu memuji indah nan manisnya, namun suatu ketika ada masanya ukhuwah itu berubah menjadi begitu getir karna Allah mengujinya. Bukankah ukhuwah itu adalah buah dari keimanan? Dan keimanan itu tentunya tak akan luput dari ujianNYA. Beruntunglah jika mampu melewati setiap ujianNYA hingga menjadikan diri kita lebih baik.

Saudaraku, terluka karena ukhuwah bukan berarti kita harus jera lalu melupakannya. Mari mencoba intospeksi, muhasabah diri. Mungkin kitalah yang membangunnya dengan kerapuhan hingga ia mudah sekali roboh dalam satu terpaan badai. Atau mungkin kita terlalu tinggi berangan akan keindahan-keindahan yang dijanjikan ukhuwah hingga kita lalai akan tanggung jawab kita dalam ukhuwah itu sendiri. Jika hak kita belum terpenuhi, kita memang pantas menuntutnya. Namun alangkah baiknya jika sebelum menuntut hak, terlebih dulu kita bertanya pada diri “sudahkah kita penuhi kewajiban dalam ukhuwah?”

ya Robbana, sembuhkan setiap hati yang luka, kuatkan setiap pundak yang lemah..

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS.Al hujurat: 10)

Wallahu a’lam bishshowab

jakarta, 25 januari 2012

septiani_dw@ymail.com

Sumber:

http://www.eramuslim.com/oase-iman/septiani-dw-ukhuwah-itu-mengecewakan-katanya.htm