Mashudul Haq (Pembela Kebenaran) bukanlah nama masyhur yang akrab ditelinga orang banyak, Namun siapa sangka nama ini adalah nama yang dimiliki oleh tokoh pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang kuat memegang Islam sebagai asas pokok dari perjuangannya, Ia adalah Haji Agus Salim (1984-1954).

Dari segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliknya, namun ia merupakan seorang sosok yang kuat pendiriannya, dalam keilmuan agamanya serta memiliki pengetahuan umum yang luas. Kelebihannya dalam bidang bahasa ditunjukannya dengan menguasai tidak kurang dari 7 bahasa, diantaranya; Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Arab, Turki dan Melayu (Indonesia). Kemampuan lisannya tak kalah hebat, dengan ciri khas pembawaan katanya yang sopan namun tegas, telah mampu menggetarkan sidang Volsraad dan Konferensi Buruh Sedunia (ILO) di jeneva.

Perannya bersama HOS Tjokroaminoto, Samanhudi dan Abdul Muis sebagai pimpinan Sarekat Islam (SI), bagai pillar-pillar yang saling melengkapi corak dan bentuk dari SI. H Agus Salim memiliki jasa besar membersihkan pemahaman komunis yang berada dalam tubuh SI. Maka ia-pun dikenal sebagai orang yang cukup gigih memperjuangkan ajaran Islam dengan turut membendung pemahaman sosialisme-marxisme dan nasionalisme yang tengah berkembang pada masa itu. Melalui corong media surat kabar, ia menyuarakan gagasan-gagasan serta kritik tajamnya terhadap pemerintahan HIndia-Belanda. Ia aktif pula membimbing para generasi muda yang berkecimpung pada organisasi Jong Islamiten Bond, Tak kurang tokoh seperti Muhammad Natsir, Muhammad Roem, Kasman Singo Dimejo dan lainnya, tiada lain termasuk sebagai hasil didikannya. Maka julukan yang kerap disandingkan padanya adalah sebagai “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man).

Dibalik nama besarnya. H Agus Salim yang berpendidikan dan berkemampuan tinggi itu, sesungguhnya dapat hidup enak, andai kata ia mau bekerja pada pemerintah Hindia-Belanda. Apalagi karena sikapnya yang Kritis terhadap kebijakan kolonialis, tentu membuatnya harus berhadapan dengan konsekuensi yang amat berat. Akibat dari sikapnya ia kesulitan mencari nafkah dan kehidupan penuh derita bagi keluarga. H Agus Salim bukannya tak tahu akan konsekuensi dari sikapnya ini, namun rupanya sudah menjadi tekad baginya untuk menuruti hati nurani. Maka demikianlah, sejak ia keluar dari dinas pemerintahan, kantor Bureau voor Openbare Werken (BOW) atau kantor pekerjaan umum pada tahun 1912 dan memasuki dunia pergerakan pada tahun 1915, hidupnya adalah sebagai partikelir yang terus-menerus dilanda kemiskinan. Padahal diwaktu yang bersamaan ia sedang membentuk sebuah keluarga, Seorang demi seorang anaknya pun lahir. Mulai dari tahun 1913 sampai lebih kurang 25 tahun kemudian. Dalam periode paling sulit, dimana ia harus sampai puluhan kali berpindah-pindah rumah, tanggungannya adalah seorang istri (Zainatun Nahar) dan delapan anak yang masih kecil-kecil.

Apabila keadaan sedang lumayan, dimana ia mempunyai penghasilan tetap misalnya sebagai hoofdredacteur atau pimpinan redaksi sebuah surat kabar, maka keluarga salim tinggal dirumah yang cukup baik juga. Tetapi begitu jabatan lepas dari tangan, seringnya karena pemilik modal menganggapnya terlalu tajam terhadap penguasa, maka sulit baginya untuk bertahan hidup di rumah baik yang biaya sewanya yang menjadi tak terpikul lagi. Pindahlah mereka kerumah yang lebih murah sewanya, tentu yang lebih kecil dan jelek, serta lokasinya dikampung yang becek, di gang yang pengap. Puluhan kali seperti ini terjadi, baik di Jakarta ataupun di kota lain seperti di Jogja dan Surabaya.

Di Jakarta mereka pernah tinggal di daerah Tanah Abang, di Karet, di Jatinegara, di Gang Kernolong, di Gang Taepekong, Gang Listrik dan masih banyak lagi, terlalu banyak untuk diingat satu persatu. Namun kadang-kadang di suatu alamat ada kejadian yang membuat kenangan tak terlupakan. Misalnya, apa yang mereka alami di Gang Listrik, Justru di alamat ini Agus Salim sekeluarga hidup tanpa listrik, gara-gara uang jaminan untuk langganan listrik tak mampu mereka bayar. Anak keempat Agus Salim, Adek (nama panggilannya) kiranya tak akan melupakan periode ini karena adalah tugasnya ketika itu sebagai anak kecil untuk membersihkan lampu-lampu setiap sore. Memang waktu itu, ia dan kedua kakaknya sudah belasan tahun dan pembagian kerja untuk menolong dirumah kira-kira adalah: Dolly (Theodora Atia) kerjanya menjahit, Yoyet (Violet Hanifah) memasak dan Adek (Maria Zenobia) membersihkan rumah. Ada masa lain lagiyang boleh dikata masa paling sulit, dimana mereka haru lima kali memboyong hak milik mereka yang tak banyak ke rumah sewaan berikutnya, hanya dala waktu kurang dari dua tahun!

Diceritakan kembali puluhan tahun kemudian, orang hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala, tapi bagi keluarga tersebut waktu itu adalah masa yang sama sekali bukan lelucon. Terutama untuk si Ibu rumah tangga yang pada hakikatnya harus memecahkan banyak persoalan seakaligus. Bukankah bersamaan dengan pindah-pindah rumah itu, mereka selalu kekurangan uang belanja, sehingga otak harus berputar terus mencari akaluntuk tetap dapat memberi makan kepada anak-anak yang sedang dalam pertumbuhan. Buat pasangan suami-istri zaman sekarang keadaan ini mungkin tak terbayangkan. Keluarga besar, tempat tinggal tak tetap, uang belanja minim. Wah, rasanya lengkaplah sudah. Ibu rumah tangga mana yang tak menjadi uring-uringan kepada suami yang sok pegang prinsip, karena pada hakikatnya ia yang harus menghadapi kesulitannya. Mana anak-anak tak disekolahkan lagi, lalu apa yang harus diperbuat? Bayangan orang pasti rumah itu kacau, tegang dan semrawut!

Ternyata tidak demikian keadaannya, Agus Salim dan keluarga rupanya hidup dalam suasana akrab, gembira dan cukup bahagia. Para tamu –orang-orang muda kalangan Islam yang sudah seperti keluarga dengan mereka– juga selalu menemukan keadaan yang menyenangkan. Memang benar, mebel bagus dan mahal-mahal jarang mereka miliki, mungkin juga akan menjadi beban belakabagi orang yang sering pindah rumah seperti mereka.
Kalau memang begitu, lalu di mana gerangan letak kunci kebahagiaan mereka? Jawabnya mungkin sekali harus dicari dalam watak dari Paatje dan Maatje (Panggilan mesra masing-masing untuk Ayah dan Ibu) dalam keluarga ini. Paatje adalah orang yang tawakal, pasrah dan bersyukur kepada kepada Allah, disamping punya watak bawaan yang optimis dan penuh humor. Ia kuat beribadah dan mampu menunjukan kasih sayang serta perhatian cukup pada istri dan anak-anaknya. Maatje adalah orang yang percaya penuh pada suami dan perjuangannya. membiasakan diri menerima keadaan sebagaimana adanya, tabah tanpa mengeluh. Dengan ketenangan luar biasa Maatje menyesuaikan keadaan rumah tangga pada perkembangan dan perubahan yang silih berganti.

Misalnya waktu uang belanja telah tipis. Walau nasi ada tapi uang pembeli lauk-pauk Paatje dan Maatje tak punya. Apa akal? Sambil bergurau dibumbui humor yang melibatkan anak-anaknya, Paatje menyingsingkan lengan baju, beramai-ramai membuat nasi gorang. Dalam suasana ceria sekeluarga makan bersama sementara anak-anak benar-benar merasa mendapat “traktiran” yang istimewa dari Paatje. Pada kesempatan lain tetap nasi panas hanya di campur kecap, mentega atau bahkan susu, dilahap anak-anak dalam suasana riang, tanpa menyadari bahwa mereka makan hanya demikian karena tiada uang pembeli sayur.

Seorang ayah yang pasrah dan tawakal juga Nampak dari sikapnya yang tenang ketika pernah hendak pindah rumah, namun tiada uang untuk biaya.

“Allah maha besar, Kita tentu akan diberi-Nya jalan” demikian ia berucap kala itu. Ternyata sikap ini benar-benar menunjukan jalan keluar. Pada saat itu kebetulan datang poswesel, kiriman pembayaran sesuatu yang tak diduga-duga.

Contoh kesabaran Maatje tercermin dalam suatu cuplikan kejadian yang sempat diingat oleh para putra-putrinya. Pernah suatu waktu mereka tinggal di sebuah rumah yang atapnya bocor. Apabila hujan turun, maka air pun membanjir masuk kamar. Si Ibu muda Zainatun Nahar yang mempunyai anak-anak kecil, bukannya lalu sedih dan panik. Tapia pa yang dilakukan? Ember-ember ditaruhkan ditempat-tempat yang kebocoran. Anak-anak diajak membuat perahu dari kertas, dan asyiklah mereka main perahu bersama. Tanpa terasa rumah yang bocor malah membawa hikmah, malah dirasakan sebagai suatu suka cita yang dapat menciptaka keasyikan bersama. Detik-detik bahagia seperti ini tertanam dalam-dalam di kalbu dan untuk selanjutnya akan tersimpan sebagai kenangan manis seumur hidup mereka.

Memang rupanya ada sisi-sisi lain dari penderitaan yang bisa terasa manis karena adanya belaian kasih sayang, terpancar dari perbuatan-perbuatan kecil tapi nyata, dipupuk oleh kebersamaan yang hangat. Kita jumpai kisah-kisah ini dari berbagai tulisan-tulisan yang terpisah-pisah, dan juga melalui pita kaset hasil rekaman suara Istri Agus Salim sendiri. Pada suatu masa mereka menempati rumah buruk yang kakusnya telah rusak, apabila disiram maka meluaplah isi kakus tersebut. Melihat ini Zainatun Nahar benar-benar tak tahan dan setiap kali ke WC, malah muntah-muntah karena jijik. Agus Salim tak sampai hati mambiarkan istrinyamenderita, untuk selanjutnya ia melarang untuk menggunakan WC yang rusak itu dan ia sendirilah yang setiap hari membuang pispot istrinya.

Mungkin itulah sekelumit gambaran keluarga dari seorang pejuang pergerakan islam, Rijalud Da’wah. Sebuah dimensi yang terkadang orang sering kali tak memperhatikannya, namun terkadang justru disitu terletak banyak pelajaran berharga. Tentunya yang demikian itu barulah sedikit kisah dari hikayat hidup orang besar seperti Haji Agus Salim. dan rasanya masih banyak lagi bagian dari kisah hidup yang sangat menginspirasi khususnya bagi saya pribadi sebagai seorang pemuda.

Allahu A’lam

 

Irfan Saputra, Mahasiswa STID (Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah) Mohammad Natsir, Peminat Pemikiran Islam.
http://www.ussyaqulhurain.multiply.com

Sumber :

http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/irfan-saputra-mahasiswa-stid-mohammad-natsir-potret-keluarga-pembela-kebenaran.htm